Di tengah hiruk-pikuk kawasan pendidikan Darussalam, terdapat sebuah gampong yang hidup hampir tanpa tidur. Lorong-lorongnya dipenuhi kendaraan mahasiswa, aroma kopi dari warung yang tak pernah sepi, serta cahaya kamar kos yang menyala hingga dini hari. Gampong itu adalah Gampong Rukoh — sebuah kawasan yang kini dikenal luas sebagai “desa mahasiswa” di Aceh.
Namun jauh sebelum dipenuhi kos-kosan, kafe, dan kehidupan anak muda, Rukoh hanyalah sebuah gampong sederhana dengan hamparan sawah, kebun, dan kehidupan masyarakat yang tenang. Warga hidup dari pertanian, berdagang kecil-kecilan, serta aktivitas sosial yang berpusat di meunasah. Jalan-jalannya belum ramai, dan suasana kampung masih sangat kental dengan nuansa pedesaan Aceh.
Perubahan mulai terasa ketika kawasan Darussalam berkembang menjadi pusat pendidikan tinggi Aceh. Berdirinya Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry membawa gelombang baru ke Banda Aceh. Mahasiswa dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk menempuh pendidikan. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang dekat dengan kampus, dan Rukoh menjadi pilihan paling strategis.
Masyarakat setempat perlahan beradaptasi. Rumah-rumah mulai disulap menjadi kamar sewa. Lorong kecil berubah menjadi deretan kos mahasiswa. Warung makan, jasa fotokopi, laundry, hingga rental komputer tumbuh mengikuti kebutuhan para pendatang muda itu. Ekonomi gampong bergerak cepat, dan identitas Rukoh pun perlahan berubah.
Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Rukoh berkembang semakin pesat. Hampir setiap sudut gampong dipenuhi aktivitas mahasiswa. Diskusi organisasi berlangsung di warung kopi, tugas kuliah dikerjakan hingga larut malam, dan kehidupan sosial anak muda membentuk warna baru dalam budaya gampong. Di sinilah uniknya Rukoh — sebuah tempat di mana budaya lokal Aceh bertemu dengan dinamika kehidupan akademik.
Lalu datanglah masa yang mengubah Aceh selamanya: Gempa dan Tsunami Aceh 2004. Meski tidak berada di wilayah pesisir paling terdampak, kehidupan di Rukoh ikut terguncang. Aktivitas kampus berhenti sementara, banyak mahasiswa pulang kampung, dan ekonomi masyarakat sempat melemah. Namun setelah masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, kawasan Darussalam justru bangkit lebih cepat dari sebelumnya.
Pembangunan infrastruktur meningkat, jalan diperbaiki, hunian mahasiswa bertambah, dan wajah Rukoh berubah menjadi kawasan urban yang modern. Kafe-kafe baru bermunculan, ruang kreatif tumbuh, dan Rukoh menjadi salah satu pusat kehidupan anak muda di Banda Aceh.
Hari ini, Rukoh bukan lagi sekadar tempat tinggal mahasiswa. Ia telah menjadi ruang tumbuh bagi ide, kreativitas, komunitas, dan mimpi banyak generasi muda Aceh. Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa datang dan pergi, tetapi denyut kehidupan Rukoh tetap sama — hangat, hidup, dan penuh cerita.
Karena itulah, bagi banyak orang, Rukoh bukan hanya sebuah gampong.
Rukoh adalah rumah kedua bagi para pencari ilmu di Serambi Mekkah.